Mengenal Kemaliq Melalui Cerpen
Mimpi Buruk
“ hhhaahhh……..”
Terperanjat,
Aku bebergegas bangkit dari tempat tidur.
Ketika kubuka pintu semuanya terlihat gelap, “yohh…ko’ gelap sih” kepalaku rasanya
berhenti berfikir. Kurang lebih tiga menit aku berdiri di depan pintu melihat
keadaan yang gelap gulita, aku baru tersadar setelah mendengar dengkuran ayah “sial…….”
seketika aku bergegas mencari ponsel dan melihat jam yang masih menunjukkan
pukul dua tengah malam. Apa yang terjadi pada ku malam itu, seingat ku aku tidur
tadi pukul sebelas, waktu segitu sudah sangat larut untuk waktu tidurku, karna
aku biasa tidur paling lambat pukul setengah sepuluh.
Kunyalakan lampu kamar, dan betapa terkejutnya akau melihat
seekor kucing yang berbulu hitam di atas ranjang tempat tidur ku. Ia memelototi
ku dengan begitu tajam, aku terpaku, tubuh ku kaku, seketika aku merasa begitu
takut, padahal hanya seekor kucing, tapi memang karna bulunya yang hitam pekat
membuatnya tampak berbeda, dan memang pada dasarnya sedari kecil aku paling tidak suda dengan hal-hal
yang hitam pekat , tidak ada kombinasi warna. Bagi ku warna hitam adalah warna
yang mistis.
Bibirku masih klu, dan aku masih berdiri terpaku di depan
pintu, aku hanya bisa menggrutu didalam hatiku “apa yang terjadi dengan ku, apa yang terjadi….?” rasanya ingin
kuteriak dan memukuli kucing itu tapi sayangnya aku tidak mampu. Dia terus
memelototiku akupun begitu, tapi mungkin mata ku tidak setajam matanya bagaikan
arang yang baru padam apinya. Aku berharap semoga ini sebuah mimpi, dan
semoga aku segera terbangun dari tidur dan dari mimpi buruk ku ini.
“meaonnngggg……” ,
“hahhh” aku terengah-engah,
tubuh ku basah oleh keringat yang bercucuran, keringat yang tak wajar, aku
hanya tidur bukan sedang lari memngelilingi lapangan. Sempat aku merasa
heran tumben aku berkeringat sebanyak
ini “perasaan tadi mlm gk panas, kenapa
keringatku bercucuran sebanyak ini?”, dan yang membuatku lebih heran lagi
kipas agin kecil di samping ku masin menyala, memutar memberikan kesejukan.
Namun di balik perasaan bingung itu ada perasaan lega yang spontan aku rasakan,
entah kenapa aku bisa merasa seperti itu, aku semakin bingung, aku berusaha
memikirkannya sejenak, tapi aku tidak menemukan jawaban apapun.
Ibu: “ani……………”
Aku terperanjat lagi ketika mendengar teriakan ibu yang
memanggilku dengan nada agak kesal, mungkin sudah beberapa kali ibu memanggil
ku namun tiada respon dariku. Akupun bergegas bangkit dari ranjang empuk ku.
setelah pintu kamar ku buka, bukan cahaya lampu lagi yang menyinari seisi
rumah, namun sinar matahari telah masuk melaui pentilasi rumah membuat rumah
tersa hangat. Terdengar dari dapur ibu mengomel menyebut-nyebut nama ku, akupun
bergegas menghampiri ibu.
Ibu: “bangun kesiangan….sholat ketinggalan, ibu sudah
peringatkan jangan begadang”
Bahkan dengan tidak menoleh ibu bisa mengenali bahwa yang datang itu adalah
aku. Aku tahu bahwa ibu paling tidak suka dan akan sangat marah jika mengetahui
anaknya meninggalkan sholat. Mengingat hal itu akupun langsung mejelaskan
kepada ibu kalo saat ini aku sedang datang bulan.
Ibu: “tidak sholat subuh bukan berarti harus diganti dengan lajut tidur ya,,,,,,”
sekarang nada suara ibu sudah agak lebih tenang, ibu tidak
jadi memarahiku.
Ibu: “Ani tolong bantu ibu goreng ikan ini, biarnanti ibu
yang buat sambal”,
“assyyappp buk” aku
langsung saja mengiakan perintah ibu saking senengnya gak jadi dimarahin juga
untuk menebus kesalahan ku karna telat bangun.
“tumben bangun
kesiangan” ibu bertanya sembari mengulek sambal yang dibuatnya, aku tidak
heran jika ibu bertanya seperti itu karna memang sebelumya aku tidak pernah
bangun kesiangan.
Aku: “entahlah Bu, aku tadi juga tidak mendengar suara azan…?”,
Ibu: “ya emang tadi itu mati lampu, makanya gk kedengeran
suara azan masjid, yang azan gk pake’ pengeras suara”,
Aku: “pantesan……”,
Ibu: “tapi tadi ibu sudah bangunkan Ani berkali kali, ibu
gdor-gdor pintu, masak gk dengeanr?”.
Aku: “ani gak ada denger suara apa-apa bu….”
Ibu: “makanya lain kali kalo tidur gak usah kunci pintu dah,
biar klo kelolosan gini ibu biasa lansung masuk bangunin kamu”
Aku: “hmmm….ya deh bu”. “Bu udah ni ikannya ani goreng”
Ibu: “ya udah langsung taruh dimeja makan aja”,
Aku: “oke”
Ibu: “jangan lupa ditutup pake’ tudung saji biar ngk di makan
sama kucing”.
Seketika mendengar kalimat ibu yang menyebut kucing, aku
langsung teringat dengan mimpi ku tadi malam. Setelah menaruh ikan goreng di
meja makan dan menutupnya dengan tudung saji seperti perintah ibu, aku lansung
kembali kedapur dan menceritakan tengatang mimpi ku yang beradu mata dengan
kucing berbulu hitam pekat tadi malam dan sialnya mimpi inilah yang hampir membuat
ku kena omel karna telat bangun.
“Bu…. sekarang aku ingat, kalo tadi mlm itu akau bermimpi
beradu mata dengan seekor kucing yang berbulu hitam pekat, sebelumnya aku tidak
pernah melihat kucing seperti itu” aku menceritakan tentang mimpiku tadi malam
kepada Ibu.
“terus…?” ibu bertanya balik.
“dia memelototiku terus, dia tidak mau melepaskan padangannya
dari ku, matanya begitu merah menyala, aku masih ingat dengan jelas mata itu.”
Aku lebih detail bercerita kepada ibu.
Kupikir ibu akan tertawa
mendengar ceritaku, tapi nampak dari raut wajah ibu ia sedang memikirkan sesuatu, aku menunggu
jawaban darinya,aku berdiri sambil trus
memandangi ibu yang sedang mencuci ulekan bekas membuat samabal tadi.
Ibu: “mungkin itu jelmaan dari penunggu makem bru yang yang mendatangimu”
Aku: “hahhhh?”
Sontan aku seperti tidak percaya , tapi bukan berarti aku tidak menganggp apa yang dikatakan ibu tidak maSuk akal. Karna sebelumnya aku pernah mendengan tentang makem bru. Makam ini dalah makam yang dikramatkan oleh masyarakat setempat , bahkan kekeramatannya diketahui oleh masyarakat luar, makam ini bisa kita sebut sebagi salah satu kemaliq karna dijaga dan dibuatkan tempat khusus, makam ini dipagar dengan luas halaman sekitar 1 are dengan dua pintu masuk bagian depan dan bgian sebelah kiri, mangku dari makam ini adalah seorang wanita tua yang akrab dikenal dengn nama Ninik Wardi, beliaulah yang menjaga dan merawat makam ini sehingga kebersihan dan keutuhan makam ini tetap terjaga, tidak sendiri ninik wardi dibantu oleh dua anak laki-lakinya yang mampu dan nantinya akan menjadi pengganti ninik sebagai mangku makem ini.
Makam ini terkenal keramat dan sangat berpengaruh bagi warga sekitar dan orang luar yang mengetahui makam itu.
Aku: “apa benar seperti itu bu?”
Ibu: “Ya……. mungkin saja, bukakankah seminggu lepas kami
telah mengambilkan mu air dimakan itu sewaktu kamu sakit, barangkali penunggu makam itu datang menyambangimu"
Aku: “ooww….seperti itu ya bu”, mengangap apa yang dikatakan ibu
tanpa banyak bertanya
kepada ibu, aku lantas mempercayai apa yang dikatan ibu, dan rasa penasaran kupun terjawab. Aku tidak begitu heran dengan
semual hal itu, karna sebelumnya juga banyak orang yang mengalami hal seperti yang aku alami tadi malam. Meski mimpi itu tidak menimbulkan pengaruh yang serius , namun aku sangat-sangat tidak mau
lagi mengalami mimpi semacam itu.
semoga mimpi bq ani gk dtang dlm mimpiku amiiinnn🤲🤲🤲
BalasHapus😂😂
HapusKereeen ceritanya aniiii
BalasHapusKereeen ceritanya aniiii
BalasHapusWow ternyata mimpinya luar biasaaaaa....
BalasHapusCeritanya muantabbbbb👍
BalasHapusKrennn krennn💪
BalasHapusMantabbbbb
BalasHapusThe best story
BalasHapusUuuuu seraammmmm😱😱
BalasHapusWaw keren ceritanya. Semoga saya ga mimpi buruk seperti Ani.😂 Semangat terus berkarya
BalasHapusMimpi y mnarik juga...
BalasHapusWow cerpen dari pengalaman pribadi sya suka😂
BalasHapusWahhh.....sya seneng bca cerpen. Mantul👍
BalasHapusKita tunggu yang cerita yg lebih hiror lagi😆